Minggu, 19 Oktober 2008

Poem

Aku

Aku tak pandai merias hidup
Yang ku rangkai adalah jalan sederhana
Pada coret-coretan Sang Pencipta
atas kehendakNya
Maka lihatlah aku yang kumuh
karena...
Aku adalah jasad-jasad tanah
Semua kenyataan adalah
"ketakutan"
Karena jalan hidup adalah pertanyaan


Kisah Biru


Mari berjalan bersama, kawan !
Merenungi kabut hitam
Yang terlukis di dinding-dinding kubah ini
Apa ia akan selalu di sini ?

Tidak, kawan !
Jika kita mau mencermati
Bercak air mata pilu
Dan isak bungkam dari raut-raut lesu itu
Semuanya masih akan biru…

Tidak perlu takut, kawan !
Walau kita masih harus melewati lorong yang panjang
Tapi kita tak sendiri
Di sini ada secangkir tawa dan ceria
Teguk perlahan dan melangkah lagi
Pilu akan segera pergi
Semoga itu bukan sebuah mimpi.


Tangan Berdebu

Ini adalah masalah waktu
Jika malam masih berkabut, dan…
Aliran sendu bergelut
Menjelma tangan-tangan kasar berdebu

Ruang waktu terengkuh
Namun singkapan bayu masih beku
Raih kisah yang dulu
Ku sisipkan sebuah lembar kelabu
Secarik kata tak tersentuh
Ter-eja dengan gagu

“Aku penuh peluh”
Hendakkah sayap halus itu menyentuh?
Tegakkan aku yang rapuh
Menuju peraduan kupu-kupu
Dimana aku bisa meninggalkan
Resah masa lalu…

2 komentar:

wong gendheng mengatakan...

cooo.....cweeeeeet

Anonim mengatakan...

uzie, boleh ga aku minta sesuatu yang cerah dalam blog kamu ini?